Menjadi Wartawati yang Supel dengan Hijab
Oleh : Mell Shaliha

Berjilbab di Negeri non Muslim memang penuh tantangan. Selain tatapan aneh kadang saya juga mendengar umpatan tentang jilbab yang saya pakai. Selama di Hongkong sekitar enam tahun, saya tidak pernah melepas jilbab, meski kegiatan saya selalu full di luar rumah. Selain bekerja sebagai buruh migran, saya pun bekerja di sebuah redaksi tabloid sebagai kontributor resmi. Maka, saya harus selalu tampil rapi dan kelihatan berbeda.
Beruntung majikan saya mengijinkan saya mengenakan jilbab. Pertama datang memang mereka melarang, namun saya menjelaskan, bahwa dengan berjilbab rambut saya tidak akan jatuh saat masak dan menghidangkan makanan. Alhamdulillah mereka setuju dengan alasan itu, dengan syarat jilbabku harus rapi dan tidak berwarna putih. Bisalah mengganti jilbab dengan warna lain, kebetulan favorit saya hitam, karena hitam itu simple dan bisa disesuaikan dengan baju berbagai warna.
Nah, ketika di luar rumah saat libur, saya bekerja untuk tabloid saya. Meliput berbagai kegiatan buruh migran Hongkong dan peristiwa-peristiwa uptodate untuk diterbitkan setiap dua minggu sekali. Tidak jarang saya bertemu artis-artis Indonesia yang diundang manggung ataupun Uztad terkenal. Meski kadang dianggap salah kostum saat liputan acara konser band, cuek aja. Yang jelas, jilbab yang rapi membuat saya lebih percaya diri dan tetap menjaga perilaku saya pada setiap event yang saya hadapi.
So, menjadi wartawati berjilbab bukanlah hal yang mustahil, asalkan niat kita tetap sama, yaitu menjaga aurat sebagai seorang muslimah.